Tampilkan postingan dengan label Berita Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

Review Masalah Gizi di Hari Gizi Nasional (HGN) ke 59


Masalah Gizi Utama di Indonesia

Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, pembangunan program gizi di Indonesia selama beberapa dekade telah menunjukkan hasil yang positip, namun demikian masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hal ini terlihat dari masih tingginya prevalensi BBLR, gangguan pertumbuhan (stunting dan wasting), Anemia Gizi Besi (AGB), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan Kurang Vitamin A (KVA).

Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2010 menyebutkan angka balita kurang gizi ada di kisaran 17,9 persen, nilainya turun dibanding dengan 2007 yang ada di kisaran 18,4 persen. Sementara itu, 36,8 persen anak balita Indonesia memiliki tinggi badan di bawah standar (stunting).

Kurang lebih 50% atau 1 diantara 2 ibu hamil di Indonesia menderita anemia yang sebagian besar karena kekurangan zat besi. Di beberapa daerah tertentu seperti NTT dan Papua, prevalensi anemia ibu hamil justru mencapai lebih dan 80%.

Lebih dan 50% anak balita mengalami defisiensi vitamin A subklinis yang ditandai dengan serum retinol <20 mcg/dL (Hadi et. al., 2000), dan satu diantara dua (48.1%) dari mereka menderita anemia kurang zat besi (SKRT, 2001). 


GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensi masih di atas 5 persen dan bervariasi antar wilayah, dimana masih dijumpai kecamatan dengan prevalensi GAKY di atas 30 persen.  Diperkirakan sekitar 18,16 juta penduduk hidup di wilayah endemik sedang dan berat; dan 39,24 juta penduduk hidup di wilayah endemis ringan.


Disamping masalah utama di atas, dan masalah gizi yang masih terjadi adalah Bayi dengan BBLR, Kematian Ibu Melahirkan, Kematian Neonatus, Kurang Gizi pada Anak Sekolah, saat ini kita juga harus menghadapi masalah gizi lebih dan obesitas sebagai masalah baru.

Survei nasional yang dilakukan pada tahun 1996/1997 di ibukota seluruh propinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8,1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25-27) dan 6,8% mengalami obesitas, 10,5%penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13,5% mengalami obesitas. Pada kelompok umur 40-49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing-masing 24,4% dan 23% pada laki-laki dan 30,4% dan 43% pada wanita (Depkes, 2003).

Penyebab Utama Masalah Gizi
Terdapat dua faktor yang terkait langsung dengan masalah gizi khususnya gizi buruk atau kurang, yaitu intake zat gizi yang bersumber dari makanan dan infeksi penyakit (lihat Gambar 3). Kedua faktor yang saling mempengaruhi tersebut terkait dengan berbagai faktor penyebab tidak langsung yaitu ketahanan dan keamanan pangan, perilaku gizi, kesehatan badan dan sanitasi lingkungan.

Faktor-faktor diet dan pola aktivitas fisik dapat dikatakan sebagai faktor-faktor utama yang memicu pertambahan berat badan itu bekerja. Lebih jelasnya, diet tinggi lemak dan tinggi kalori dan pola hidup kurang gerak (sedentary lifestyles) adalah dua karakteristik yang sangat berkaitan dengan peningkatan prevalensi obesitas di seluruh dunia (WHO, 2000).

Jadi, baik masalah gizi kurang ataupun gizi lebih, disamping disebabkan faktor konsumsi dan ketersediaan pangan, juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, perilaku gizi dan pola hidup.
 
Upaya Intervensi
Adalah suatu ironi bahwa kenyataan di lapangan pada saat ini, perhatian terhadap upaya-upaya kesehatan promotif dan preventif sangat kecil dibandingkan perhatian yang diberikan pada upaya-upaya kuratif-rehabilitatif. Relatif kecilnya perhatian pemerintah terhadap upaya-upaya kesehatan promotif-preventif dapat dilihat dan relatif kecilnya anggaran yang dialokasikan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk upaya-upaya promotif - preventif tidak mencapai 10% dari total anggaran kesehatan. Sebaliknya, anggaran biaya yang dialokasikan untuk upaya-upaya kesehatan kuratif mencapal 60 hingga 85% dan total anggaran bidang kesehatan.

Perhatian utama dan sebagian besar pemerintah daerah lebih ditujukan pada upaya pembangunan infrastruktur, sarana-prasarana dan pengembangan wilayah (INPRASWIL).Pembangunan yang yang bersifat non-fisik dan tidak dapat dilihat hasilnya dalam waktu dekat seperti pembangunan kesehatan umumnya kurang mendapat perhatian.

Tidak jarang pemerintah daerah dan DPRD, di daerah miskin sekalipun lebih mengutamakan pendirian rumah sakit baru dengan peralatan canggih dan mahal dari pada memperbanyak, memperbaiki, melengkapi peralatan dan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia Puskesmas yang sudah ada.

Di tingkat pusat, selama empat tahun (2000-2003) pasca krisis ekonomi, 60%-75% dari anggaran program gizi dialokasikan untuk pengadaan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang jumlahnya berkisar antara Rp.100 milyar sampai Rp.120 milyar setiap tahunnya. (Depkes, 2004). Dalam kenyataannya sampai saat ini, kebijakan tersebut belum efektif karena pelaksanaan pemberian MP-ASI secara gratis tidak tepat sasaran, ditolak (tidak disukai) oleh masyarakat, dan akhirnya tidak sedikit yang menumpuk di gudang dan tempat penyimpanan lainnya.

Tidak efektifnya kebijakan pemerintah yang mulia ini tampaknya berkaitan dengan adanya MP-ASI yang belum sesuai dengan lidah dan budaya kebanyakan bayi sasaran program, masih kurangnya sosialisasi program kepada masyarakat, dan lemahnya monitoring serta evaluasi program tersebut. 

Dalam kondisi negara masih serba sulit seperti sekarang ini, termasuk keterbatasan anggaran, alokasi anggaran untuk program pembangunan termasuk untuk program kesehatan dan gizi, khususnya proyek bantuan pangan seperti bantuan MP-ASI harus didasarkan atas perencanaan yang matang dengan perhitungan efektivitas pembiayaan (cost-effectiveness) sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan, dan didukung dengan kemampuan manajemen program yang memadai. 

Penutup
Masalah gizi dan kesehatan dimasa datang akan semakin komplek dan itu semua akan menjadi tantangan utama pembangunan bidang kesehatan. Kompleksitas masalah gizi dan kesehatan tersebut menuntut perhatian semua pihak khususnya Departemen Kesehatan RIdalam mengantisipasi masalah kesehatan dimasa yang akan datang serta dalam mengambil keputusan kebijakan pembangunan kesehatan. Namun demikian, peran wakil rakyat, pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, dan stakeholder lain juga sangat menentukan keberhasilan dalam menangani masalah gizi dan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Masalah pengetahuan dan perilaku adalah masalah yang tidak begitu mudah untuk dirubah. Namun perubahan yang besar harus dimulai dari perubahan yang kecil. Mari kita mulai dengan menerapkan perilaku gizi dan kesehatan yang baik dari diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat. Selalu membiasakan diri kita untuk  berbagi informasi dan nasehat mengenai gizi dan kesehatan kepada sesama, sedikit apapun informasi itu.


Semoga Indonesia dapat secepatnya menanggulangi masalah-masalah gizi yang ada, meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia yang ada.

SELAMAT HARI GIZI NASIONAL KE-59, 25 JANUARI 2011.


Tulisan ini diringkas dari sumber :
  • BEBAN GANDA MASALAH GIZI DAN IMPLIKASI NYA TERHADAP KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN NASIONAL. (Prof. dr. Hamam Hadi, M.S.,Sc.D. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2005) 
  • Masalah Gizi di Indonesia: Kondisi Gizi Masyarakat Memprihatinkan (Hidayat Syarief, Gizi-Net, 2004)

Rabu, 12 Januari 2011

Kelurahan Mangun Jaya : Pilotnya Proyek NICE



Para konsultan dengan latar belakang kantor kelurahan Mangunjaya

Mangun Jaya adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten OKI merupakan salah satu dari enam kabupaten/kota di Provinsi Sumsel yang menjadi wilayah Proyek NICE bantuan ADB. NICE (Nutrition Improvement through the Community Empowerment) adalah sebuah proyek Pemerintah dalam upaya peningkatan gizi melalui pemberdayaan masyarakat.



Hari Rabu, 25 Agustus, kantor Kelurahan Mangun Jaya lebih ramai dan semarak dari biasanya. Belasan ibu-ibu, diantaranya masih belia, berkumpul dan berdiskusi penuh keceriaan difasilitasi oleh sekelompok orang yang bukan berasal dari wilayah itu. Letak Kantor Kelurahan yang berada di tengah persawahan dengan konstruksi panggung berlantai papan, ditambah dengan semilir angin sawah, menjadikan suasana pembelajaran tidak membosankan, meskipun dalam suasana bulan puasa.

Ibu-ibu tersebut adalah Kelompok Gizi Masyarakat (KGM) dan Fasilitator Masyarakat (FM) yang sedang mendapatkan arahan dan pembelajaran tentang pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan masalah gizi. Kelompok orang yang memberikan arahan itu adalah para konsultan yang membidangi aspek Training Masyarakat, Komunikasi, Supervisi dan Monitoring, serta Penyusunan Anggaran. Konsultan itupun terdiri konsultan dari luar negeri (2 orang) dan konsultan dalam negeri (3 orang).


Survey Mawas Diri : Mengapa itu dilakukan?

Hari itu, para konsultan memberikan pembelajaran tentang langkah-langkah pelaksanaan Survei Mawas Diri (SMD) untuk menggali potensi masalah sebenarnya yang dirasakan masyarakat. Selain itu, KGM dan FM juga diuji argumentasinya atas proposal kegiatan yang mereka ajukan beberapa waktu sebelumnya. Dengan tangkas mereka memberikan argumentasi setiap pertanyaan yang diajukan oleh konsultan. Tampak sekali kematangan persiapan rencana program kerja yang telah mereka susun.


Kantor Kelurahan, konstruksi panggung di tengah persawahan, elok dipandang nyaman ditandang

Kabupaten OKI dijadikan sebagai Pilot Area untuk wilayah Sumsel. Penetapan ini dilatarbelakangi oleh kesiapan Pemerintah Kabupaten OKI untuk mendukung sepenuhnya Proyek NICE, yang diwujudkan juga diantaranya melalui pembentukan Tim Teknis Kecamatan dengan dukungan anggaran dari APBD.


 Beberapa Trophy diantara sekian banyak yang menunjukkan prestasi   Kelurahan Mangun Jaya

Mengapa Mangun Jaya ditetapkan sebagai Pilot Area untuk wilayah OKI? Diantara indikator yang menonjol adalah FM dan KGM Kelurahan Mangunjaya sebagai yang paling gesit dan paling responsif serta rencana kerja yang cukup realistik.

KGM Mangun Jaya telah menyusun rencana kegiatan yang meliputi antara lain :
  • Penanaman pot di sekitar posyandu, karena kesulitan lahan di wilayah pemukiman.
  • Mengintegrasikan aktivitas posyandu dengan kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bina Keluarga Balita (BKB), dan Taman Kanak-Kanak B (TK-B).
  • Melengkapi posyandu dengan Alat Permainan Edukatif (APE) yang dapat mempercepat rangsangan motorik anak, dan menarik anak beserta ibunya untuk hadir di posyandu secara rutin.
Kepala Puskesmas Kutaraya, Hidayadinsyah, SIP., yang membawahi Kelurahan Mangun Jaya dan 14 kelurahan/desa lainnya, menjelaskan bahwa setelah sosialisasi program NICE sejak Desember 2008, FM dan KGM serta Lurah Mangun Jaya secara bersama-sama telah menyusun proposal kegiatan. Dana sebesar 56 juta ruoiah telah masuk rekening, akan tetapi belum dapat direalisasikan karena masih harus menunggu persetujuan proposal.

Kelurahan Mangun Jaya terdiri dari 9 RT dan 4 lingkungan, dengan jumlah rumah tangga sekitar 750 KK, 38 dasawisma, 42 kader PKK, serta penduduk sekitar 2590 jiwa.  Namun demikian Lurah Mangun Jaya, Abu Sani Bamam, menjelaskan bahwa sebagian informasi yang terpampang pada papan desa belum mengalami pemutakhiran sejak 2009. Untuk selanjutnya, pemutakhiran data Kabupaten/Kota akan dilanjutkan dengan bantuan KGM dan FM di wilayahnya.


Keceriaan Tim Konsultan sesaat akan meninggalkan Mangun Jaya, tanda kepuasan atas hasil kunjungannya

Jelaslah bahwa dengan segala kelebihannya, Kelurahan Mangun Jaya yang berada di wilayah Kecamatan Kota Kayu Agung, Kabupaten OKI, adalah Pilotnya Pilot Area NICE di Sumatera Selatan. (emanz/Tim Teknis GIZINET)


Sumber :
http://gizi.net/2010/08/kelurahan-mangun-jaya-pilotnya-pilot-nice/

Selasa, 21 Desember 2010

Hentikan Promosi Susu Formula!

Selasa, 9 November 2010 | 10:47 WIB

AIMI
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Meski kesadaran untuk memberi ASI eksklusif semakin tinggi, tetapi gencarnya iklan susu formula di Indonesia membuat ASI bukan satu-satunya makanan bayi.



Oleh karena itulah, semua bentuk promosi makanan dan minuman pengganti ASI terutama di fasilitas kesehatan dan kerja sama dengan tenaga kesehatan harus dihentikan.

Demikian benang merah dari forum ONE ASIA (OA) Breastfeeding Partner Forum Ke-7 yang diadakan di Jakarta mulai hari ini, Selasa (9/11/2010), hingga Jumat (12/11/2010) mendatang.

Acara yang dihadiri lebih dari 100 peserta perwakilan dari negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara serta lembaga kesehatan dunia ini mengambil tema "Seruan Mengakhiri Bentuk Promosi Makanan dan Minuman Pengganti ASI".

"Forum ini diselenggarakan untuk membangun jaringan nasional dan internasional dan memperkuat kolaborasi masyarakat dan pemerintah untuk melindungi dan mendukung upaya menyusui," ungkap Farahdibha Tenrilemba, Ketua Penyelenggara ONE ASIA Breastfeeding Partner Forum 7.

Forum tersebut juga diharapkan membuka mata semua pihak tentang keberadaan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI serta jenis-jenis pelanggaran yang terjadi. "Masyarakat bisa jadi pengawas, dengan begitu akan membantu meningkatkan angka menyusui," kata Farahdibha.

Forum-forum terdahulu telah diselenggarakan oleh IBFAN Asia, sebuah lembaga yang telah memelopori penilaian kebijakan dan program untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung menyusui di 70 negara.

Lewat forum tersebut diharapkan tercapai rencana dan strategi untuk memastikan tiap ibu dan bayi terlindungi dari segala bentuk promosi susu formula yang melanggar kode etik.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan akan melarang semua bentuk pemasaran susu formula untuk bayi berusia kurang dari 1 tahun mulai tahun 2011. Kebijakan itu diharapkan bisa menekan angka kematian bayi dan mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) tahun 2015. 

Senin, 20 Desember 2010

Indonesia Jadi Pasar Utama Susu Formula

Rabu, 10 November 2010 | 07:48 WIB
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Masih tingginya angka kelahiran bayi di Tanah Air  membuat Indonesia menjadi salah satu pasar utama dalam pemasaran produk susu formula. Menurut laporan, angka penjualan susu formula di dunia meningkat sebesar 37 persen pada tahun 2008-2013.


Hal itu diungkapkan oleh David Clark, nutrition specialist, dari Badan PBB untuk Anak-anak dan Pendidikan (Unicef) dalam acara pembukaan ONE ASIA Breastfeeding Partner Forum 7 di Jakarta, Selasa (9/11/2010).

"Asia Pasifik merupakan pasar utama industri susu formula (sufor), khususnya Indonesia dan China," katanya.

Clark menambahkan, selain jumlah penduduk yang sangat besar, tidak adanya regulasi pemerintah yang mengatur pemasaran susu formula membuat pihak produsen dengan bebasnya mempromosikan produknya di Indonesia.

"Susu formula merupakan produk yang sangat menguntungkan perusahaan. Karena itu, jutaan dollar sudah dihabiskan untuk mempromosikan produknya dengan target para ibu. Mereka ingin para ibu membeli lebih banyak produk mereka, " paparnya.

Sedemikian gencarnya promosi susu formula sehingga jumlah bayi yang disusui menurun. Data menyusui dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan, konsumsi susu formula meningkat dari 15 persen tahun 2003 menjadi 30 persen pada tahun 2007.

Sementara itu, jumlah bayi yang disusui secara eksklusif turun dari 40 persen pada tahu 2003 menjadi 30 persen tahun 2007.ONE ASIA   Breastfeeding Partner Forum 7 yang diadakan atas kerja sama AIMI, Kementerian Kesehatan, dan IBFAN Asia di Jakarta, menyerukan kepada semua bangsa di dunia untuk memprioritaskan kesehatan bayi mereka dan menghentikan bentuk-bentuk promosi susu formula dan makanan pengganti ASI.
Laporan wartawan KOMPAS.com Lusia Kus Anna


Rabu, 15 Desember 2010

Peringatan Hari Kesehatan Nasional Kabupaten OKI

Rabu, 15 Desember 2010, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) propinsi Sumatera Selatan melakukan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 46. Acara dimulai dengan melakukan defile dari Lapangan Hatta Kayuagung sampai ke Kantor Dinkes Kabupaten OKI. Rombongan defile diawali dengan barisan Marching Band SMAN 3 Unggulan Kayuagung, yang diikuti dengan  barisan dinkes, BKKB dan 25 puskesmas se kabupaten OKI.


Upacara peringatan HKN dilakukan di Lapangan Dinkes Kab. OKI, yang dipimpin langsung oleh Bapak Bupati OKI, Ir. H. Ishak Mekki, MM. Dalam, amanatnya, bupati mengingatkan kepada para semua jajaran dinkes kab. OKI untuk selalu meningkatkan dan memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat, baik itu pelayanan kesehatan dalam hal kuratif maupun yang lebih penting secara promotif dan preventif.



Bupati juga menyebutkan, bahwa salah satu faktor yang menghambat pelayanan kesehatan yang optimal di kabupaten OKI adalah kurang meratanya penyebaran tenaga kesehatan di puskesmas-puskesmas dan desa-desa. Tenaga kesehatan selama ini lebih cenderung menumpuk pada puskesmas-puskesmas yang berlokasi di dekat ibukota kabupaten, sebaliknya pada wilayah puskesmas-puskesmas yang jauh seperti daerah Pematang Panggang, Air Sugihan dan Sungai Menang, tenaga kesehatan yang ada berjumlah sedikit atau atau tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang dilayani.




Untuk itu, bupati menghimbau kepada pihak yang berwenang dalam hal penempatan tenaga kesehatan untuk dapat melakukan penyebaran tenaga kesehatan yang lebih proporsional pada semua wilayah atau puskesmas di kabupaten OKI.

Setelah pelaksnaan upacara, acara dilanjutkan dengan pembagian piala dan hadiah bagi para tenaga kesehatan teladan, puskesmas dengan pelayanan terbaik, peserta KB teladan, dan bantuan sepeda motor bagi poskesdes, pelepasan balon dengan spanduk tema HKN, penempelan stiker ASI Eksklusif dan penanaman seribu pohon secara simbolik oleh Bupati OKI, Ketua Tim Penggerak PKK dan Kapolres OKI.

Baca Juga :
Taburia Multivitamin Mineral Balita
Idealkah Berat Badan Anda- IMT Sebagai Alat Pemantau Berat Badan

Minggu, 12 Desember 2010

Stop Susu Formula buat Bayi!

Rabu, 10 November 2010 | 11:47 WIB

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi susu formula
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelarangan iklan susu formula bagi bayi di bawah usia satu tahun bukan tanpa alasan. Rendahnya pemberian ASI bagi bayi dan tingginya risiko yang ditimbulkan oleh susu formula adalah dua di antara banyaknya alasan yang bisa disebut. Selain, tentunya, iklan itu melanggar kode etik pemasaran susu formula.


Baru-baru ini, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih membuat aturan pelarangan iklan susu formula untuk anak usia di bawah satu tahun di berbagai media baik cetak, elektronik, maupun media luar ruang. Aturan lain yang juga ditetapkan adalah melarang rumah sakit, tempat bersalin, ataupun klinik kesehatan yang bekerja sama dengan produsen susu formula.

Aturan ini tentunya sangat disambut positif, terutama oleh kalangan praktisi kesehatan dan lembaga swadaya masyarakat yang sering menjumpai berbagai pelanggaran kode etik susu formula. Di antara mereka ada dr Dien Sanyoto Besar, SpA, IBCLC.
Ia sering melihat, papan nama di boks bayi di rumah sakit atau klinik bersalin menjadi papan iklan susu formula. Di beberapa rumah sakit dan klinik bersalin memang tak jarang terlihat, bayi yang baru lahir diberi susu formula menggunakan botol.
Belum lagi ketika bayi pulang dari rumah sakit, orangtua dibekali bingkisan berisi susu formula untuk bayinya. "Lalu ASI-nya di mana? Menurut saya, ini tindakan yang kejam karena hak bayi tidak dipenuhi dan bayi sudah diperebutkan oleh susu formula," kata dr Dien.

Akibatkan pemberian ASI turun
Sebetulnya, banyak negara sudah menerapkan secara ketat bahwa fasilitas kesehatan tidak boleh digunakan sebagai tempat untuk promosi susu formula. Produk untuk bayi itu juga tidak diperkenankan untuk diiklankan menggunakan media apa pun. Rumah sakit bahkan tidak dibenarkan mendapatkan susu formula dengan potongan harga, apalagi diberikan secara gratis.
Praktik-praktik promosi seperti ini, tanpa disadari, akan berpengaruh terhadap pemberian ASI. Sebuah studi yang mengamati hubungan antara iklan di majalah pengasuhan dan ASI antara tahun 1972 dan 2000 menemukan bahwa ketika frekuensi iklan untuk susu tambahan meningkat, persentase pemberian ASI menurun.
Adapun studi yang dilakukan oleh US Congressional Accountability Office tahun 2006 menunjukkan bahwa pemberian ASI pada mayoritas ibu yang menerima sampel susu formula gratis di rumah sakit ternyata lebih rendah. Itu sebabnya, promosi susu formula tidak diperbolehkan mengingat efeknya yang dapat memengaruhi pemberian ASI.
Praktik seperti ini juga tidak sesuai dengan kode etik pemasaran susu formula yang diterapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 1981.

Tekad menteri kesehatan
"Kode etik pemasaran diperlukan karena pemberian ASI belum optimal. Diperkirakan, hal itu masih menyumbang kematian sekitar 1,4 juta anak di bawah usia 5 tahun setiap tahunnya," ungkap David Clark, legal officer dari UNICEF.
Pemberian ASI juga belum optimal di Indonesia. Hal ini pula yang membuat Menkes mengambil langkah serius dalam hal pelarangan susu formula untuk anak usia di bawah setahun.
Larangan ini akan diterapkan pada tahun 2011. Saat ini, rancangan peraturan pemerintah (RPP) terkait pelarangan itu sedang digodok oleh Kementerian Kesehatan. RPP ini, diutarakan Menkes sebagaimana dikutip Sehatnews.com, sudah mendapat persetujuan dan presiden untuk dilanjutkan. Diharapkan, RPP itu pada tahun depan sudah menjadi peraturan pemerintah (PP).
PP ASI sebagai amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan akan mengatur tentang pemberian ASI eksklusif bagi bayi, pembatasan susu formula, termasuk pembatasan pengiklanan produk, dan pembentukan ruangan menyusui di perusahaan.
Untuk pembatasan susu formula, Menkes menyebutkan bahwa petugas kesehatan dilarang bekerja sama dengan perusahaan yang memproduksi susu formula. Di PP itu akan diatur bahwa susu formula bagi anak berusia di bawah setahun tidak boleh diiklankan.
Salah satu dokter anak penggiat ASI, dr Utami Roesli, SpA(K), IBCLC, mendukung rencana pemerintah tersebut. "Semua yang menggantikan tempat ASI untuk bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun tidak boleh diiklankan, termasuk susu formula. Susu formula itu bukan makanan pendamping ASI," kata dr Utami dalam suatu kesempatan.

ASI makanan utama
Menurut dr Utami, makanan bagi bayi, terutama pada 6 bulan pertama, adalah air susu ibu (ASI). Tidak ada yang bisa menggantikan kualitas nutrisi ASI bagi bayi, semahal apa pun susu formula.
ASI unik karena setiap ibu akan menghasilkan ASI yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan bayinya. ASI hari ini belum tentu sama dengan ASI esok hari. ASI untuk bayi prematur tidak akan sama dengan bayi lahir cukup bulan.
Hal ini yang tidak mungkin diperoleh dari susu formula. Dari hari ke hari, komposisi susu formula tetap seperti itu, tidak ada yang berubah.
Sayangnya, para ibu lupa akan kondisi ini sehingga tak sedikit yang kemudian menggantungkan susu formula bagi bayinya. Akibatnya, pemberian ASI eksklusif bagi bayi pun melorot.
Disebutkan oleh dr Dien, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 menunjukkan bahwa bayi-bayi yang mendapat ASI secara eksklusif masih sekitar 42 persen. Namun, tahun 2003, jumlah itu turun menjadi 39 persen. Di satu pihak, penggunaan susu botol mengalami kenaikan tiga kali lipat dan 10 persen menjadi 30 persen.
Hasil pengamatan yang dilakukan dr Dien di delapan provinsi di wilayah Indonesia, bekerja sama dengan badan internasional pada tahun 2003-2005, menunjukkan bahwa hampir semua rumah sakit yang dikunjungi memberikan susu botol pada hari pertama ketika bayi lahir.
Kalau hal ini terus terjadi, risiko bayi mengalami sakit pasti bertambah. Pasalnya, susu formula tidak sesteril yang diperkirakan. "Susu bubuk formula bukanlah merupakan produk steril. Susu tersebut bisa terkontaminasi saat di pabrik," imbuh David.
Belum lagi dengan sisi kehigienisan perlengkapan, seperti botol, dot, dan akses ke air bersih yang dibutuhkan untuk membuat susu formula. Dengan kata lain, kemungkinan bayi mengalami sakit menjadi lebih besar ketimbang diberikan ASI.
Berdasarkan pengalaman ibu bernama Rika, misalnya, hal tersebut bisa dilihat. Wanita karier ini memiliki dua anak yang hanya mendapat ASI selama dua bulan. Ia beralasan bahwa, "ASI saya tidak cukup, dan saya harus bekerja." Mereka pun diberi susu formula hingga usia dua tahun.
"Susu formula yang saya berikan sudah dilengkapi dengan berbagai zat gizi. Jadi, saya pikir tidak masalah," pikir karyawati perusahaan minyak ini.
Yang kemudian membuat Rika heran, anaknya kerap sakit, entah itu batuk atau pilek. Dalam setahun, ia bisa bolak-balik ke dokter anak karena daya tahan tubuh mereka rendah.
Masalah seperti inilah yang sering digarisbawahi oleh banyak ahli. Anak-anak yang diberi susu formula lebih rentan terkena infeksi atau jatuh sakit dibandingkan dengan anak yang diberi ASI.
Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI bagi bayi Anda. Lagi pula, lanjut dr Dien, "Sebanyak 99 persen ibu bisa menyusui. Jadi, PD saja deh," ujarnya. (Diana Yunita Sari)
Sumber :