Tampilkan postingan dengan label Iman dan Amal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman dan Amal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Tragedi Karbala 10 Muharram 61 H


Rasul yang agung Muhammad saw berpesan kepada umatnya:
“Husein dariku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein
“Al-Hasan dan Al-Husein penghulu pemuda ahli surga.”


Rujukan hadis tersebut selengkapnya, akses di sini
Rasulullah saw juga berpesan:
“Sungguh cucuku Al-Husein ini akan terbunuh di suatu tempat di Irak, barangsiapa yang menjumpainya bantulah ia.”
Belum lama persan Rasul yang agung, masih terngiang dalam ingatan para sahabatnya.
14 abad yang lalu suasana kota Madinah tercekam oleh ketakutan dan kezaliman.
Seruan Al-Husein (as) tak didengar lagi, bahkan dihinakan dan direndahkan. Yazid bin Muawiyah menekan Al-Husein agar menghentikan seruannya, dan segera berbait kepadanya.
Suasana kota Madinah semakin hari semakin mencekam. Di malam-malam yang dingin Al-Husein (as) mendatangi kuburan Rasulullah saw. Di pusara kakeknya ia menyampaikan salam: Assalamu’alayka ya Rasulallah.
Ia mengadukan semua perlakukan umatnya:
“Ya Rasulullah, telah engkau saksikan prilaku umatmu, mereka tak menghiraukan seruanku. Mereka menghinaku, merendahkanku dan menzalimiku. Mereka menghinakan Ahlul bait yang engkau tinggalkan kepada mereka.”
Di kuburan kakeknya ia menangis dan merintih hingga larut malam dan tertidur. Dalam tidurnya Al-Husein bermimpi Rasulullah saw datang, memeluknya dan mencium keningnya, seraya berpesan: “Ya Husein! Ayahmu, ibumu dan kakakmu menyampaikan salam untukmu, mereka merindukanmu ingin segera berjumpa denganmu. Duhai Husein, tidak lama lagi engkau akan menyusulku dengan kesyahidanmu.” Lalu Al-Husein terbangun.
Di pusara kakeknya Al-Husein berjanji untuk menegakkan kebenaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh kakeknya Rasulullah saw.
Esok harinya Al-Husein (as) menghimpun keluarganya dan sebagian kecil sahabat Nabi saw, untuk meninggalkan kota Madinah.
Sebelum meninggalkan kota Madinah Al-Husein (as) berpamitan pada Ummu Salamah Isteri Rasulullah saw, ia mengantarkan Al-Husein dengan linangan air mata. Ia terkenang saat-saat bersama Rasulullah saw. Mari kita dengarkan kisah Ummu Salamah:
“Ketika Rasulullah saw hendak tidur ia nampak gelisah, berbaring lalu bangun kembali, berbaring lalu bangun lagi. Ummu Salamah bertanya kepadanya: Mengapa engkau nampak gelisah ya Rasulallah? Rasulullah saw menjawab: “Baru saja Jibril datang kepadaku memberitakan bahwa Al-Husein kelak akan dibunuh di Karbala. Jibril membawa tanah ini. Simpanlah tanah ini wahai ummu Salamah. Jika kelak tanah ini warnanya telah berubah menjadi merah, itu pertanda Al-Husein telah terbunuh.” Ummu Salamah menyimpannya.
Kini Al-Husein (as) dan rombongannya meninggalkan kota Madinah menuju kota Mekkah. Penduduk kota Kufah mengirim surat kepada Imam Husein (as). Mereka mengharap kedatangannya. Mereka berjanji akan berbait kepadanya sebagai pemimpin mereka. Mereka berjanji akan melindungi Al-Husein (as) dan keluarganya.
Karena suasana kota Mekkah semakin hari semakin tidak aman bagi Al-Husein (as) dan keluarganya. Ia menghimpun rombongannya yang tak lebih dari 73 orang, yang sebagian terdiri anak-anak kecil dan perempuan.
Al-Husein (as) berserta rombongannya meninggalkan kota Mekkah menuju kota Kufah walaupun ibadah hajinya belum sempurna.
Kini Al-Husein dan rombongannya berangkat menuju kota Kufah. Karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh, Al-Husein dan rombongan berhenti di padang Karbala. Mereka memancangkan kemah-kemah di padang Karbala untuk berteduh dari sengatan panas matahari dan istirahat karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh.
Tak lama mereka istirahat terdengarlah deru suara kuda dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelaslah bahwa suara itu adalah suara deru kuda pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya ribuan pasukan berkuda.
Ya Allah, Ya Rasulullah
Kini Al-Husein (as) dan rombongannya yang tak lebih dari 73 orang yang sebagian terdiri anak-anak kecil dan wanita. Mereka harus berhadapan dengan ribuan pasukan berkuda Ibnu Ziyad Gubernur pilihan Yazid bin Muawiyah.
Karena jauhnya perjalanan Al-Husein dan rombongannya kehabisan bekal. Mereka dalam keadaan haus dan lapar. Sebagian dari rombongan Al-Husein berusaha mengambil air dari sungai Efrat, tapi pasukan Ibnu Ziyad menghadangnya. Mereka tetap berusaha keras mengambil air untuk dipersembahkan kepada Al-Husein, keluarganya dan rombongan yang tercekik oleh kehausan. Mereka tak berhasil mempersembahkan air karena diserang oleh anak-anak panah pasukan Ibnu Ziyah, dan mereka berguguran menjadi syuhada’.
10 Muharram 61 H
Wahai penduduk Kufah, mana janjimu kepada Al-Husein (as) cucu tercinta Rasulullah saw. Dimana nuranimu? Belum lama kalian berjanji untuk melindungi keluarga suci Rasulullah saw, tapi kini kalian menjemputnya dengan pedang, anak panah dan tombak.
Pada tanggal 10 Muharram 61 H, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu Ziyad mulai melancarkan serangan pada rombongan Al-Husein (as). Salah seorang pasukan Ibu Ziyad mengarahkan anak panah pada leher seorang bayi. Bayi itu putera Al-Husein (as). Anak panah mengenai leher sang bayi, dan mengucurlah darah dari lehernya. Begitu hausnya sang bayi itu ia menjilat-jilat darah yang mengalir, dan meninggallah bayi suci keturunan Rasulullah saw.
Sore hari 10 Muharram 61 H
Bersamaan kemerahan ufuk barat, pasukan Al-Husein berguguran, darah mewarnai tanah Karbala. Suasana Padang Karbala tercekam oleh darah para syuhada’ dan jeritan wanita dan anak-anak kecil dari keluarga Rasulullah saw. Dalam suasana terkecik rasa haus dan lapar mereka menyaksikan anak-cucu Rasulullah saw bersimbah darah.
Kini Al-Husein (sa) tinggallah seorang diri dan beberapa anak-anak dan wanita dari keluarganya. Dalam suasana haus dan lapar, Al-Husein (sa) berkata di depan pasukan Ibnu Ziyad: “Bukalah hati nurani kalian, bukankah aku adalah putera Fatimah dan cucu Rasulullah saw. Pandanglah baik-baik diriku, bukankah baju yang aku pakai adalah baju Rasululah saw.”
Hati mereka telah tetutup oleh noda kehinaan, pikiran mereka telah dikendalikan oleh hawa nafsunya, pandangan mereka telah berubah akibat janji-janji Yazid bin Muawiyah berupa jabatan dan uang.
Kecuali Al-Hurr, pasukan Ibnu Ziyad tidak lagi memperdulikan seruan Al-Husein (sa). Kini Al-Husein (as) seorang diri berdiri di Padang Karbala. Pasukan Ibnu Ziyad menyerang Al-Husein (as).
Zainab (adiknya), Syaherbanu (isterinya), Ali bin Husein (puteranya), dan rombongan yang masih hidup yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Mereka menyaksikan pertempuran antara Al-Husein (as) dan ribuan pasukan Ibnu Ziyad. Pedang Zul-Fiqar Al-Husein (as) telah mematahkan pedang2 lawannya, dan menebas kepala dan tubuh mereka. Pedang-pedang lawan tak mampu menghadapi kilatan pedang Zul-Fiqar Al-Husein (as).
Akhirnya panglima pasukan Ibnu Ziyah menyerukan agar melancarkan serangan anak panah dan tombak.
Kini Pasukan Ibnu Ziyad melancarkan serangan anak-anak panah dan tombak pada Al-Husein. Satu persatu anak panah itu mengenai dada Al-Husein, dan tombak pun menancap pada dadanya. Mengucurlah darah dari tubuh Al-Husein (as), ia pun terjatuh dari kudanya. Al-Husein sudah tak berdaya, tubuhnya bersimbah darah.
Melihat Al-Husein terjatuh dan tak berdaya, Syimir dari pasukan Ibnu Ziyah memacu kudanya ke arah Al-Husein (as). Ia turun dari kudanya, menginjak-injak dada Al-Husein (as).
Ya Allah, Ya Rasullah, Ya Amiral mukminin, Ya Zahra’!
Kini Al-Husein seorang diri, tubuhnya sudah lemah, tak berdaya, dan bersimbah darah. Syimir laknatullah menginjak-injakkan kakinya ke dada Al-Husein (sa). Innalillahi wa inna ilayhi Rajiun.
Syimir pun belum puas dengan penghinaannya itu, ia menduduki dada Al-Husein (as) lalu ia menghunus pedangnya, dan menyembelih leher Al-Husein (as) sampai terputus dan terpisah dari tubuhnya. Innalillahi wa inna ilayhi Rajiun.
Menyaksikan peristiwa sangat sadis dan tragis itu, Zainab, isteri Al-Husein dan anak-anak kecil menjerit histeris. Tidak hanya itu kekejaman Syimir, ia melemparkan kepala Al-Husein (sa) yang berlumuran darah ke dalam kemah Zainab. Semakin histeris jeritan Zainab dan keluarganya menyaksikan kepala Al-Husein yang berlumuran darah berada di dekatnya.
Jeritan Zainab Al-Kubra (sa) memecah suasana yang paling duka. Ia merintih sambil berkata: Oh… Husein, dahulu aku menyaksikan kakakku Al-Hasan meninggal diracun oleh orang terdekatnya, dan kini aku harus menyaksikan kepergianmu dibantai dan disembelih dalam keadaan haus dan lapar.
Padahal Rasul yang agung berpesan kepada kita, tidak boleh menyembelih binatang ternak yang dalam kehausan. Sementara engkau ya Husein, disembelih dalam keadaan haus yang tidak diberi setetes pun air.
Ya Allah, ya Rasullallah, saksikan semua ini. Al-Husein telah meninggalkan kami dibantai di Karbala dalam keadaan haus dan lapar. Dibantai oleh umatmu yang mengharapkan syafaatmu. Ya Allah, ya Rasulallah Akankah mereka memperoleh syafaatmu sementara mereka menghinakan keluargamu, dan membantai Al-Husein yang paling engkau cintai?
Kemerahan Ufuk Barat Mewarnai Karbala
Bersamaan tenggelamnya matahari di ufuk barat, mega merah dan darah merah Al-Husein dan para syuhada’ mewarnai suasana duka keluarga Rasulullah saw yang ditinggalkan.
Kini suasana Padang Karbala paling mencekam bagi keluarga Rasulullah saw. Zainah Al-Kubra dan keluarganya kini menangisi kepergian Al-Husein (sa), mereka merintih pilu, apa yang akan terjadi pada mereka sesudah Al-Husein tiada?
Kini rombongan Al-Husein (sa) yang masih hidup tinggallah: Zainab, isteri Al-Husein, Ali putra Al-Husein (sa) yang sedang sakit, anak-anak kecil dan para wanita.
Mereka diikat dengan rantai, digiring dalam keadaan haus dan lapar, dari karbala menuju Kufah kantor gubernur Ibnu Ziyad yang kemudian mereka digiring ke istana Yazid bin Muawiyah di Damaskus.
Dalam keadaan lemah, haus dan lapar, Zainab Al-Kubra dan rombongannya dirantai dan digiring di sepanjang jalan kota Kufah.
Ya Rasulullah, ya Zahra’! Kini anak cucumu dijadikan barang tontonan yang tragis bagi penduduk Kufah yang berbaris di sepanjang jalan. Zainah Al-Kubra dan keluarganya menundukkan kepala, malu dengan sorotan mata para penonton.
Pasukan Ibnu Ziyad membawa kepala Al-Husein untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
Kini mereka akan mempersembahkan kepala Al-Husein dan tawanan dari anak-cucu Fatimah Az-Zahra’ dan sahabat dekatnya. Mereka ingin menukarnya dengan jabatan dan uang sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Yazid bin Muawiyah.
Dalam suasana keluarga Rasulullah saw berduka. Yazid bin Muawiyah, Ibu Ziyad, Umar bin Sa’d dan para pasukannya berpesta-pora di Istana, merayakan kemenangannya.

اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَيْنِ

Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn wa ‘alâ ashhâbil Husayn.
Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua putera-puteri Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein.

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://shalatdoa.blogspot.com
http://islampraktis.wordpress.com

Kamis, 09 Desember 2010

Aku Lebih Baik dari Dia

Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.” Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik dari dia.” 


Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.” Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?” Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.” Tuhan lalu berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.”

Kata ana khairun minhu atau “Aku lebih baik dari dia” pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, “Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.” Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.

Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, “Aku lebih baik dari dia,” adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#

Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, “Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?” Lalu Imam dengan marah menjawab, “Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy.”

Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.

Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, “Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa.” (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, “Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka.” Ia masuk neraka karena ketakaburannya.

Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata, “Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu.”

Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, “Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya.” Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak.”

Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, “Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku.” Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi.” Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Anda menjawab “ya” untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, “Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan.” Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada mereka.”

(Ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 5 September 1999, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung. Dengan beberapa perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi R.)

Baca Juga :
Tragedi Karbala 10 Muharram 61 H
Undang-undang Pemberian ASI Eksklusif